Rintangan pertama adalah jalur penuh jebakan tali yang direntangkan di berbagai ketinggian. Setiap tali dihubungkan dengan lonceng kecil. Jika lonceng berbunyi, itu berarti gagal melewati jebakan dengan sempurna. Lonceng ini dibuat dari bambu yang sudah di rendam dengan cairan khusus dengan batu pemberat di tengahnya sehingga dapat menimbulkan bunyi saat bergerak. Mereka biasa menggunakannya untuk tanda di jebakan.

Lapangan terbuka di dekat perbukitan itu ramai dengan penduduk suku Uksa yang berkumpul, tertawa, dan berbisik-bisik sambil memperhatikan rintangan yang baru saja disiapkan. Tali-tali tebal direntangkan di berbagai ketinggian, membentuk jalur yang rumit dan di setiap tali tergantung lonceng kecil.

Narendra berdiri dengan percaya diri di samping Lynx, tangannya melipat di dada. Tatapannya penuh dengan rasa percaya diri yang hampir menjengkelkan. "Jadi, kau harus melewati ini tanpa menyentuh tali. Jika terlalu banyak lonceng berbunyi, kau gagal."

Lynx memiringkan kepalanya, memandang rintangan itu dengan senyum tipis. "Kedengarannya cukup mudah."

Narendra tertawa kecil, menepuk pundak Lynx dengan sikap merendahkan. "Jangan terlalu percaya diri, teman. Bahkan aku butuh waktu bertahun-tahun untuk menguasai ini."

Dari kerumunan, Kanha melompat-lompat, menunjuk Lynx dengan tawa keras. "Kak Narendra akan mengalahkanmu dengan mudah! Dia yang terbaik! Kau pasti akan menjatuhkan semua lonceng itu!"

"Betul!" seru seorang pria tua dari kerumunan. "Orang Sinto seperti dia hanya tahu cara memanjat pohon dan bersembunyi di hutan! Lihat saja nanti, pasti jatuh berantakan!"

Lynx tersenyum, melihat bagaimana orang-orang Uksa memandangnya. Ia tidak menjawab, hanya memberi isyarat kepada Narendra untuk memulai.

Narendra tersenyum lebar. "Baiklah, aku tunjukkan dulu caranya."

Narendra berdiri di depan rintangan, mengencangkan tali tombaknya di punggungnya. Ia mengangkat tangan ke arah kerumunan. "Perhatikan baik-baik! Aku akan menunjukkan bagaimana Uksa yang sejati bergerak!"

Sorakan menggelegar dari kerumunan. "Ayo, Narendra! Tunjukkan pada dia!"

Narendra mulai bergerak, dan gerakannya memang luar biasa. Dengan tubuh yang besar dan otot yang terlihat kuat, ia bergerak dengan kelincahan yang tidak disangka-sangka. Ia melompat melewati tali rendah, berputar di udara untuk menghindari tali yang lebih tinggi, dan melangkah dengan hati-hati di antara jeratan yang sempit.

Saat lonceng kecil berbunyi sekali ketika ujung kakinya menyentuh tali, Narendra hanya tertawa. "Itu hanya pemanasan!"

Kerumunan tertawa bersamanya, dan Kanha melompat-lompat sambil bertepuk tangan. "Hebat, Kak Narendra! Hanya satu lonceng! Tidak ada yang bisa melampaui itu!"

Ketika Narendra mencapai akhir jalur dengan gemilang, sorakan semakin keras. Ia berdiri dengan tangan terangkat, menyambut pujian dari penduduk. "Lihat itu!" teriaknya. "Aku tantang siapa pun untuk melakukannya lebih baik!"

Semua mata kini tertuju pada Lynx. Ia melangkah maju dengan tenang, wajahnya tanpa ekspresi. Beberapa penduduk mulai berbisik-bisik.

"Dia pasti tidak bisa," kata seorang pria, suaranya penuh cemoohan. "Lihat caranya berjalan. Terlalu kaku."

Kanha mendekat ke Lynx, tersenyum licik. "Kau yakin tidak mau menyerah saja? Kalau aku jadi kau, aku akan pura-pura tersandung di awal saja. Itu akan lebih terhormat daripada kalah melawan kakakku!"

Lynx hanya menatap Kanha dengan senyum kecil. "Aku rasa aku akan mencobanya dulu."

Narendra mendekat, menepuk bahunya lagi. "Semoga beruntung," katanya dengan nada mengejek. "Tapi jangan terlalu kecewa kalau kau gagal."

Lynx tersenyum, lalu melangkah ke garis awal.

Ketika Lynx memulai, suasana langsung berubah. Gerakannya berbeda dari Narendra—lebih cepat, lebih luwes, hampir seperti tarian. Ia melompat rendah untuk menghindari tali pertama, lalu melengkungkan tubuhnya dengan presisi yang nyaris tidak manusiawi untuk melewati tali-tali lainnya.

Semua lonceng tetap diam.

Kerumunan mulai terdiam, tatapan mereka terpaku pada Lynx.

"Tidak mungkin," gumam seorang pria tua. "Dia bahkan belum menyentuh apa pun!"

Narendra menyipitkan mata, tangannya mengepal di dada. "Hoki saja," gumamnya pelan, tapi nada suaranya terdengar tidak yakin.

Ketika Lynx melompati tali tinggi dengan gerakan berputar yang elegan, bahkan Kanha terdiam, mulutnya menganga. "Apa... apa dia baru saja—"

Lynx terus melaju, dan ketika ia mencapai akhir jalur tanpa membunyikan satu pun lonceng, suasana sunyi total.

Ia berdiri di ujung jalur, menoleh ke arah Narendra. "Jadi, ini latihan Uksa yang sulit?" tanyanya dengan nada santai.

Kerumunan akhirnya pecah dengan sorakan, meskipun sebagian besar diiringi keterkejutan.

Narendra berjalan mendekat, wajahnya menunjukkan campuran rasa kagum dan kesal. "Cukup mengesankan," katanya akhirnya. "Tapi jangan berpikir kau bisa selalu seperti ini. Ini baru pemanasan."

Lynx hanya mengangkat bahu. "Kalau begitu, aku menunggu yang lebih sulit."

Dari belakang, Kanha memandangi Lynx dengan rasa kagum yang kini menggantikan olok-oloknya sebelumnya. "Kak Lynx... kau benar-benar hebat!" serunya dengan semangat.

Salah seorang pria tua Uksa berbisik pelan ke temannya. "Dia pasti hanya beruntung, tidak mungkin dia tetap beruntung di pertandingan selanjutnya."

Namun, Narendra tidak akan menyerah begitu saja. Ia melangkah ke depan lagi, matanya menatap Lynx dengan penuh tekad. "Kau mungkin melewati yang ini. Tapi aku janji, tantangan berikutnya akan membuktikan siapa yang lebih baik."

Lynx menatap Narendra dengan senyum kecil. "Aku akan menunggu."

Setelah rintangan pertama selesai, penduduk Uksa bergerak ke sebuah lapangan kecil di dekat perbukitan. Mereka tampak bersemangat, beberapa membawa perbekalan ringan, sementara yang lain bersorak-sorai di sepanjang jalan. Di tengah lapangan, sebuah kandang kayu kecil diletakkan, berisi seekor burung mungil dengan bulu berwarna cerah.

Narendra berdiri di tengah kerumunan, tangannya bersilang di dada. Wajahnya tetap percaya diri, meskipun Lynx sudah menunjukkan kemampuan luar biasa sebelumnya.

"Rintangan berikutnya adalah perburuan," kata Narendra dengan suara lantang, memastikan semua orang mendengarnya. "Seekor burung akan dilepaskan ke perbukitan. Tugasnya sederhana: tangkap burung itu dengan tangan kosong, tanpa melukainya."

Seorang pria tua dari kerumunan berseru, "Ini bukan tugas untuk sembarang orang! Lihat saja, Narendra akan menunjukkannya lagi!"

Wanita yang sebelumnya mengejek Lynx menambahkan, "Dia dari Sinto, kan? Apa mereka tahu cara menangkap sesuatu selain buah-buahan dari pohon?"

Tawa pecah dari kerumunan. Lynx berdiri di samping Narendra, mendengarkan semua ejekan itu dengan tenang. Wajahnya tetap netral, meskipun sudut bibirnya sedikit terangkat dalam senyum kecil.

Narendra menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jari. "Aku akan memulai dulu, seperti sebelumnya. Lihat dan pelajari, Lynx. Kau mungkin bisa mengambil satu atau dua pelajaran dariku."

Lynx hanya mengangguk ringan. "Aku menunggu dengan sabar."

Kanha, yang berdiri di dekat kandang burung, menunjuk Lynx dengan tawa keras. "Sebaiknya kau perhatikan baik-baik, Kak Lynx! Kau mungkin akan membutuhkan keberuntungan seluruh suku Sinto untuk menang kali ini!"

Burung kecil itu dilepaskan dari kandang. Ia terbang ke arah pepohonan di perbukitan, bergerak cepat dan tidak terduga. Narendra langsung bergerak, matanya tajam mengikuti pola terbang burung itu.

Penduduk Uksa bersorak keras. "Ayo, Narendra! Kau pasti bisa!"

Dengan lincah, Narendra berlari di atas bebatuan, memanjat salah satu pohon kecil untuk mengintai burung itu. Ketika burung itu terbang rendah, Narendra melompat dengan presisi, tangannya hampir menangkap ekornya.

Namun, burung itu terbang lebih tinggi, menghindari tangkapannya. Narendra tidak menyerah. Ia membaca gerakan burung dengan hati-hati, mengatur napasnya. Setelah beberapa kali mencoba, ia berhasil menunggu momen yang tepat. Dalam satu gerakan cepat, ia menangkap burung itu di udara.

Sorakan meledak dari kerumunan. "Itu dia! Narendra tidak pernah gagal!"

Narendra turun dengan burung itu di tangannya, memperlihatkannya kepada semua orang dengan senyum bangga. "Lihat ini," katanya kepada Lynx. "Ini bukan tentang kecepatan semata, tapi ketangkasan dan kecerdasan. Aku tidak yakin kau bisa melakukannya."

Kanha melompat-lompat sambil tertawa. "Kak Narendra terlalu hebat untuk dikalahkan! Kau harus menyerah saja, Kak Lynx!"

"Dia tidak akan bisa melakukannya. Aku akan memakan kotoran kalau sampai dia bisa melakukannya," teriak salah satu penonton.

"Aku akan berlari telanjang keliling kampung jika sampai dia bisa." Teriak yang lainnya.

Lynx tertawa geli mendengarnya. Dia memperhatikan dan mengingat wajah orang tersebut. Dia berpikir tidak akan melepaskan orang-orang tadi untuk memberi mereka pelajaran.

Burung itu dilepaskan kembali, dan kini giliran Lynx. Penduduk Uksa menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu, meskipun beberapa masih memandang rendah kemampuannya.

"Lihat saja, dia pasti membuat kita tertawa lagi," gumam salah satu pria muda.

Wanita dari kerumunan menambahkan, "Narendra punya bakat alami. Lynx? Hanya keberuntungan yang menyelamatkannya tadi."

Lynx melangkah ke tengah lapangan, mengabaikan semua komentar itu. Ia mengangkat wajahnya, matanya mengamati burung yang terbang.

Narendra mendekatinya, berbicara dengan nada merendahkan. "Cobalah yang terbaik. Tapi jangan merasa buruk jika kau gagal. Tidak semua orang terlahir sebagai pemburu."

Lynx tersenyum tipis. "Kita akan lihat."

Ia tetap diam sejenak, mengamati pola terbang burung itu. Ia memperhatikan arah angin, posisi pepohonan, dan bahkan bayangan yang tercipta dari sinar matahari.

"Kenapa dia tidak bergerak?" tanya seseorang dari kerumunan. "Apa dia takut?"

"Ayo, Kak Lynx! Kalau kau butuh bantuan, aku bisa meminjamkan tali!" olok Kanha, membuat tawa kecil terdengar.

Tiba-tiba, Lynx bergerak. Dalam satu gerakan mulus, ia melompat tinggi ke atas batu besar, menggunakan pantulan batu itu untuk melompat lebih jauh.

"Cepat sekali!" seru salah satu pria Uksa.

Burung itu mencoba menghindar, tetapi Lynx sudah memperkirakan ke mana ia akan pergi. Dengan satu lompatan terakhir, Lynx menangkap burung itu di udara, tangannya menggenggam dengan hati-hati agar tidak melukainya.

Ketika Lynx mendarat dengan tenang, suasana menjadi hening selama beberapa detik.

Kanha melongo. "Apa... apa dia baru saja menangkap burung itu dalam satu gerakan?"

Sorakan kembali pecah dari kerumunan, meskipun kali ini terdengar lebih kaget daripada bangga.

Narendra mendekat, menatap Lynx dengan mata menyipit. "Kau tidak hanya cepat, tapi juga berpikir cepat," katanya, meskipun suaranya terdengar sedikit enggan.

Lynx menyerahkan burung itu kepada Kanha. "Apa kau ingin mencoba?" tanyanya dengan nada bercanda.

Kanha menjulurkan lidah. "Tidak, terima kasih! Aku lebih suka menonton!"

Beberapa penduduk mulai berbisik-bisik. "Mungkin dia lebih dari yang kita kira," gumam seorang pria tua.

Namun, Narendra masih belum menyerah. Ia menatap Lynx dengan tekad baru. "Kau mungkin memenangkan dua pertandingan ini, tapi perjalanan masih panjang. Kita lihat siapa yang benar-benar unggul pada akhirnya."

Lynx menatap Narendra dengan senyum kecil. "Aku menunggu tantangan berikutnya."
